Sejarah Singkat Alun-Alun Bandung

Alun-alun Bandung, tempat terbuka umum beralaskan rumput sintetis

0
4017
alun-alun
Alun-Alun Bandung

Alun-alun secara sederhana dapat kita artikan sebagai pusat kota yang berada di Pulau Jawa. Secara umum struktur tata letak alun-alun yang anda temui di hampir sama yaitu berfungsi sebagai pusat administratif. Namun dalam perkembangan selanjutnya hal tersebut sangat diperngaruhi oleh siapa penguasa saat itu dan budaya masyarakat setempat dimana alun-alun ini berada. Oleh karenanya tidak mengherankan jika anda melihat fungsi alun-alun di satu daerah berbeda dengan daerah lainnya.

Awal Mula Alun-Alun Bandung

Alun-alun Bandung dibangun sekitar tahun 1811, yaitu ketika pemerintahan kolonial Belanda memindahkan ibukota pemerintahan dari Krapyak (saat ini Dayeuh Kolot) ke Cikapundung untuk membendung serangan Inggris. Pembangungan ibukota pemerintahan saat itu, baik gedung sarana dan prasarana penunjang pemerintahan seperti : tempat kediaman penguasa (pendopo), Kantor Pos, Jl. Raya Pos, Barak Militer, dan lain sebagainya menjadi titik awal terbentuknya alun-alun.

Alun-Alun Sore Hari
“Ngabuburit” di Alun-Alun

Perbedaan Alun-Alun di Pulau Jawa

Struktur budaya masyarakat yang anda temui ketika berkunjung pada satu daerah sangat berperan dalam menentukan fungsi alun-alun pada daerah tersebut. Ketika Kerajaan Majapahit membangun ibukota Trowulan (Jawa Timur) pada abad ke-14, fungsi alun-alun saat itu sangat kental dengan tradisi budaya setempat “pepe” yaitu sebagai ajang bertemunya rakyat untuk menyampaikan aspirasinya pada penguasa. Namun berbeda halnya dengan alun-alun yang anda temukan di daerah Jawa Barat. Sejak berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Padjajaran di abad ke-15, penguasa lokal Priangan tidak lagi dominan, itulah sebabnya alun-alun di Priangan tidak pernah di dominasi oleh keraton seperti bisa kita temui di Solo & Jogyakarta.

Struktur budaya masyarakat yang anda temui ketika berkunjung pada satu daerah sangat berperan dalam menentukan fungsi alun-alun pada daerah tersebut. Ketika Kerajaan Majapahit membangun Ibukota Trowulan (Jawa Timur) pada abad ke-14, fungsi alun-alun saat itu sangat kental dengan tradisi budaya setempat “pepe” yaitu sebagai ajang bertemunya rakyat untuk menyampaikan aspirasinya pada penguasa. Namun berbeda halnya dengan alun-alun yang anda temukan di daerah Jawa Barat. Sejak berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Padjajaran di abad ke-15, penguasa lokal Priangan tidak lagi terlalu menguasai, itu sebabnya alun-alun di Priangan tidak pernah di kuasai oleh keraton seperti kita temui di Solo & Jogyakarta.

Satu hal yang menarik untuk anda perhatikan adalah terdapatnya “menara beringin” (pohon beringin) hampir pada setiap alun-alun kota di daerah Jawa. Konon sejarahnya “menara beringin” ini dijadikan penetapan batas-batas kota oleh Pemerintah Hindia Belanda yang menguasai hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Itu mungkin sebabnya mengapa hingga saat ini alun-alun masih tetap dijadikan acuan tempat berkumpulnya masyarakat berbagai kalangan, baik di kota besar maupun di kota kecil.

Dayeuh Kolot : kota tua