Peristiwa Bersejarah Bandung Lautan Api

0
3733
Bandung Lautan Api
Ilustrasi Bandung Lautan Api

Mungkin anda pernah mendengar satu peribahasa dalam bahasa Belanda “In het heden ligt het verleden. In het nu wat komen zal” ~ Di dalam kekinian terkandung masa lalu. Di dalam masa sekarang termuat masa depan”. Jika belum, anda tentu pernah mendengar ungkapan presiden pertama Republik Indonesia : “Jas Merah” ~ Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Untuk itulah mengapa kami memberikan ruang baca bagi anda untuk mengenal sebagian kecil sejarah, khususnya kota Bandung. Kali ini kami akan mengulas sepintas mengenai peristiwa bersejarah yaitu Bandung Lautan Api.

Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api

Ultimatum 29 November 1945, Cikal Bakal Peristiwa Bandung Lautan Api
Ultimatum Pertama
29 November 1945

Peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api yang terjadi pada bulan Maret 1946 merupakan memorabilia khususnya bagi masyarakat yang berada di Tatar Parahyangan, yang menolak ultimatum pertama Sekutu pada November 1945 untuk mengosongkan Bandung Utara. Kemudian pada awal tahun 1946, Inggris berjanji untuk menarik pasukannya dari Jawa Barat dan menyerahkannya pada Belanda. Belanda memiliki rencana untuk menggunakan daerah Jawa Barat sebagai basis militer mereka untuk menghadapi Indonesia.

Kesepakatan antara Inggris dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration untuk melakukan serangan militer menimbulkan perlawanan dari pemuda pejuang di Bandung. Ya bagaimana tidak, kota yang begitu indah ini akan direbut kembali oleh penjajah dan terlebih daripada itu perlawanan yang dilakukan menunjukkan kecintaan warga Bandung terhadap kemerdekaan.

Tentara Sekutu dan NICA Belanda yang menguasai wilayah Bandung Utara, memberikan ultimatum pada tanggal 23 Maret 1946, agar TRI (Tentara Republik Indonesia) mundur 11 Km dari pusat kota sampai dengan batas waktu tengah malam tanggal 24 Maret 1946. Tentara Sekutu menarik garis batas pemisah (demarkasi) antara Bandung Utara dan Bandung Selatan berdasarkan jalur rel kereta api. Ultimatum tersebut disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta, walaupun Markas Besar di Yogyakarta sudah memerintahkan TRI agar mempertahankan setiap jengkal tanah yang ada di Bandung.
“Ketika itu yang terjadi adalah bagaimana rakyat yang tidak mau keluar dari kota Bandung, mau memenuhi perintah dari Jakarta, dari Presiden Soekarno untuk meninggalkan Bandung. Waktu itu Kota Bandung memang diancam dibom Sekutu, sehingga harus mundur 11 Km dari pusat kota. Ini menjadi momen penting, pertama kali rakyat mulai mau berdisiplin. Juga menjadi penanda pengakuan kepada Jakarta sebagai pusat pemerintahan” jelas Kunto.

Pembumi hangusan Bandung
Pembakaran Tempat TInggal Pribadi – Bandung Lautan Api

Perintah untuk mundur atau meninggalkan Kota Bandung jelas menyakiti para pejuang kemerdekaan di lapangan. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus. Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur, semua rumah dibakar oleh pemiliknya” jelas Akhbar salah satu veteran Pasukan Indoensia (Divisi Siliwangi).
Pada siang hari tanggal 24 Maret 1946, TRI dan masyarakat Bandung mengosongkan kota dan mengungsi ke bagian selatan Kota Bandung. Sambil mundur ke selatan, masyarakat membakar bangunan-bangunan penting di sekitar jalan kereta api dari Ujung Berung sampai dengan Cimahi. Bersamaan dengan itu TRI melakukan serangan ke wilayah utara Kota Bandung yang dikuasai Sekutu. Jadi pengunduran diri dari Bandung diiringi oleh kobaran api sepanjang 12 Km dari timur ke barat Kota Bandung.

 

Renville Agreement
Perjanjian Renville – 8 Desember 1947

Perjuangan yang gagah berani itu tercatat dalam sejarah Bangsa Indonesia sebagai peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api. Itulah awal-awal usaha Belanda untuk kembali merebut kembali Kemerdekaan Indonesia, yang berlanjut pada Agresi Militer Belanda I yang terjadi pertengahan bulan Juli sampai dengan awal Bulan Agustus 1947. Meskipun Agresi Militer Belanda I tersebut gagal, namun akhirnya NICA Belanda akhirnya berhasil menguasai seluruh daerah Jawa Barat melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Oleh karena NICA melanggar ‘gencatan sencata’ dan terus menggempur basis pertahanan Tentara Indonesia, pada awal Bulan Februari 1948 Pasukan Divisi Siliwangi pun terpaksa berpindah tempat ke Jawa Tengah.

Tokoh Misteri Peristiwa Bersejarah Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan Api
Tugu Perjuangan Bandung Lautan Api

Peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api tidak lepas dari gigihnya perlawanan para pemuda pejuang. Salah satu tokoh misteri peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api yaitu Mohamad Toha, yang diabadikan menjadi nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung Selatan. Konon kabarnya Mohamad Toha membawa dinamit untuk meledakan gudang senjata yang ketika itu dijaga tentara Jepang. “..menjelang meledaknya gudang senjata di Dayeuhkolot, ada dua pemuda yang hilang, yakni Mohamad Toha dan Mohamad Ramdhan” kata Akhbar.
Bagaimana detail peristiwa meledaknya gudang senjata serta peranan Toha, Kunto mengatakan tampaknya perlu diadakan penelitian tentang gugurnya Toha. “Kalau Mohamad Ramdhan, dia memang betul gugur dalam pertempuran. Dan jenazahnyapun ditemukan. Dia memang berani sekali dan benar-benar memakai ajaran Jepang tentang berjibaku. PM Amir Syarifuddin kemudian menyerahkan jenazah Ramdhan kepada ibunya…” jelas Kunto.

Bagaimanapun polemik yang masih terjadi mengenai misteri tersebut, namun beberapa catatan penulis yang layak untuk diperhatikan adalah keberanian dan semangat perjuangan para pemuda ketika itu untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan kita saat ini memang tidak dalam bentuk mengangkat senjata bahkan berperang, namun lebih kepada bagaimana mempertahankannya dengan mengisi kemerdekaan ini demi Indonesia tercinta. Sekian ulasan singkat mengenai fakta dan peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api. Semoga dapat sedikit menambah wawasan kita semua. (jnt)

Sumber : Dari berbagai sumber.