Perkebunan Sebagai Penggerak Perekonomian Bandung

Perkebunan Memberikan Hasil Komoditas Berfungsi Sebagai Penggerak Ekonomi Kota Bandung di Masa Kolonial

0
2105
Komoditas kopi Jawa Barat
sumber : disbun[dot]jabarprov[dot]go[dot]id

Sejak penemuan sebuah negeri bernama “Bandung” pada tahun 1641 oleh Julien da Silva, dataran ini sampai dengan sekitar tahun 1780-an hanya merupakan daerah yang dihuni oleh beberapa puluh rumah saja. Namun kondisi tersebut berubah setelah dibukanya perkebunan kopi oleh Pieter Engelhard pada tahun 1789 yaitu di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Hasilnya ternyata sangat memuaskan, dari situlah kopi ini dikenal di Eropa dengan sebutan “Javakoffie” yang harum. Bahkan selanjutnya kopi dari Jawa Barat ini dijadikan suatu jenis kopi yang dikenal sebagai jenis “java”. Sebagai informasi tambahan pabrik kopi yang hingga saat ini masih bisa kita temui yaitu “Pabrik Kopi Aroma”.

Perkebunan Teh Jawa Barat. sumber : wisataindonesia[dot]biz
Proses Pemetikan Daun di Perkebunan Teh
Sebagai motor penggerak ekonomi bagi kolonial, pada tahun 1831 metode ‘Tanam Paksa’ (cultuur-stelsel) mulai diterapkan. Dari hasil penjualan dari perkebunan kopi ini, pemerintah Hindia – Belanda mampu membiayai perang dengan Belgia, bahkan membangun kembali negeri asalnya di Eropa yang jatuh miskin setelah perang Napoleon. Metode Tanam paksa itu akhirnya dihapuskan pada tahun 1870, setelah para intelektual dan pemuka masyarakat Belanda sendiri menentang habis-habisan metoda yang memakan korban puluhan ribu rakyat Priangan (Preanger) itu.

 

Pabrik Teh PTPN VI
Proses Pengolahan Daun Teh

Bukan hanya perkebunan kopi saja ternyata yang sukses namun perkebunan teh serta penanaman kina juga banyak menghasilkan uang sebagai motor penggerak ekonomi, mengingat kebutuhan kina sebagai bahan baku obat penangkal malaria meningkat tajam saat itu. Franz Wilhelm Junghuhn petualang sekaligus peneliti berhasil mengembangkan perkebunan kina di lereng Tangkuban Perahu. Sejak itulah daerah Priangan (Preanger) untuk dikenal sebagai penghasil kina utama di dunia. Nama Junghuhn sendiri di abadikan sebagai “Taman Junghuhn” di daerah Lembang.

PERKEMBANGAN USAHA DAN POPULASI BANDUNG

Dengan dihapuskannya cultuur-stelsel pada tahun 1870, kegiatan perekonomian di Kota Bandung malah semakin meningkat. Peraturan Agraria dan Reorganisasi Priangan yang segera diterbitkan, memotivasi para pengusaha Eropa untuk mendirikan usaha. Banyak diantara mereka yang membuka perkebunan teh, perkebunan kopi, perkebunan kina dan perkebunan karet di daerah sekitar Bandung. Tahun 1884 jalur kereta api Bandung  – Batavia  pertama kali dibuka, sehingga tingkat migrasi di kota ini pun bertumbuh dengan pesat.

Pertumbuhan jumlah penduduk antara 1889-1906 meningkat dua setengah kali, tidaklah mengherankan jika Kota Bandung membutuhkan sistem administrasi pemerintah yang lebih mandiri. Maka dari itu, tahun 1906 status Bandung ditingkatkan menjadi kotapraja yang memiliki lokasi kantor di Gedong Papak, bekas gudang kopi dan rumah asisten perkebunan kopi (1825) yang saat ini menjadi Balaikota Bandung.

Batavia : Asal mula sebutan untuk Kota Jakarta
Preanger : Asal mula sebutan Priangan